Slideshow top

 photo 1_zps7bfahdyb.jpg" />  photo 2_zpswpp3okmd.jpg" />  photo 3_zpsbhekwfc5.jpg" />  photo 5_zpsdqndj1kt.jpg" />
Showing posts with label Agen Domino Online Indonesia Terpercaya. Show all posts
Showing posts with label Agen Domino Online Indonesia Terpercaya. Show all posts

Sunday, November 29, 2015

Cerita Sex Dewasa, Istri Pamanku Memang Menggairahkan

“ Maaah, minta susu..! “ teriak seorang bocah kepada mamanya. "Iya,,, sebentar sayang!" teriak mamanya dari dlm kamar. Bocah kecil tersebut adalah anak dari mama yang disebut tadi. Kita sebut saja namanya Ras. Ras merupakan istri dari abang mama saya, mengertikan? Jadi saya seharusnya memanggilnya bibi, tapi sebab suatu alasan, dia kami panggil Mbak dan dia tidak keberatan kok dipanggil begitu. Suaminya saat itu bekerja di luar negeri dan dia ditinggal di rumah mertuanya yaitu nenek saya. Suaminya telah lama pergi dan hanya pulang sekali dlm setahun. Pada saat itu umur saya baru akan menginjak 17 tahun, dan sekolah di salah satu perguruan swasta di kota saya dan pada saat itu sekolah kami sedang libur, jadi otomatis di rumah sepi sebab semua penghuni rumah sdh keluar entah ke mana.



Agen Domino Online Indonesia Terpercaya - Di rumah kami tinggal bersama nenek, dan 5 orang sepupu saya yang tentu saja lebih kecil dari saya semuanya. Jam baru menunjukkan pukul 9. 00 pagi.


 Nenek saya sedang pergi ke pasar dan biasanya bila beliau ke pasar tidak pernah sebentar. Kelima sepupu saya sdh keluar dari tadi pagi jadi yang tinggal di rumah cuma saya dan Mbak Rasti serta anaknya yang baru berumur 5 tahun. Saya dan Mbak Rasti bisa dibilang sangat dekat, sebab kami sering berbicara dan bercanda bersama. Jadi di antara kami berdua sangat terbuka. Namun pada saat itu saya tidak berani berbuat macam-macam kepadanya, tapi kalau berpikir macam-macam sih pasti ada, he he he. "Ma, buatkan susu dong!" celoteh bocah tadi menagih janjinya tadi. "Iya, nih tiap hari minum susu aja. Susu mahal tau!" mamanya menyodorkan sebotol susu kepada anaknya dan diterima anaknya dgn gembira tanda bahwa dia tidak mau mengerti tentang kemahalan susu.

Memang anaknya setiap bangun tidur dan sebelum tidur selalu meminta susu. Kebetulan lagi pada saat itu saya baru selesai sarapan pagi dan timbul keisengan saya untuk bercanda kepada Mbak Rasti. "Saya juga minta susu dong Mbak!" kata saya sambil menyodorkan gelas kepadanya. "Eh.. loe itu udah gede, itu kan susu buat anak-anak", balas Mbak Rasti.

"Lho, jadi kalau udah gede gak boleh minum susu?" tanya saya sambil pasang muka tak berdosa. "Bukannya nggak boleh, tapi itukan susu buat anak-anak", tegasnya sekali lagi. "Jadi yang buat orang dewasa mana?" tantang saya kepadanya. "Ini!" sambil menunjuk kepada buah dadanya yang sepertinya cukup besar dan padat itu. Terang saja saya terkejut, dan saya pun malu sebab dia tidak biasanya bercanda sampai begitu. Sebenarnya saya tahu kalau dia itu sebenarnya sdh sangat haus dgn seks. Bayangkan saja selama hampir setahun tidak berhubungan dgn suaminya, siapa yang tahan. Dan argumen saya ini juga telah saya buktikan.

Kebetulan kamar saya yang berada di lantai 2 tepat di atas kamar mandi, dan lantai 2 hanya berlantaikan papan jadi iseng-iseng saya melubangi papan itu biar bisa mengintip orang mandi. Saya sering mengintip Mbak Rasti mandi dari lubang itu dan saya lihat bahwa Mbak Rasti sangat sering merangsang dirinya sendiri di kamar mandi, misalnya dgn memijat-mijat dadanya sendiri dan mengelus-elus kemaluannya sendiri. Jadi dari itu saya mengambil kesimpulan kalau dia sering terangsang. "Kok bengong? mau minum susu nggak?" ucapnya membuyarkan lamunanku.



"Apa masih ada? anak Mbak kan udah lima tahun?" jawab saya menetralisir kekagetan saya. "Gak tau dech.. kamu coba aja, hehehe.. udah dech.." katanya sambil melewati saya menuju kamar mandi setelah itu berbisik sekilas kepada saya. "Pintu kamar mandi nggak Mbak kunci. "Terang saja saya senang sekali, soalnya saya sering baca buku porno dan pernah berkhayal kalau saya melakukan hubungan badan dgn Mbak Rasti dan sepertinya sekarang bisa terwujud. Saya membuka pintu kamar mandi perlahan dan saya lihat Mbak Rasti sedang membelakangi saya menggantung pakaian yang akan dipakainya. Dgn perlahan juga saya tutup pintu kamar mandi dan menguncinya tanpa suara.

Saya melihat Mbak Rasti mulai membuka baju tidurnya tanpa membalikkan tubuhnya. Sepertinya dia tidak sadar kalau saya sdh berada di dlm. Sesdh baju dilepas setelah itu tangan saya menuju ke pengait BH-nya bermaksud membantu membuka BH-nya. Dia kaget sebab tiba-tiba ada orang di belakangnya namun sesdh mengetahui bahwa yang di belakangnya adalah saya dia tersenyum dan membiarkan saya melanjutkan kegiatan saya. Sesdh BH-nya terbuka saya setelah itu melemparkannya ke tong tempat baju kotor. "Mbak, susunya boleh saya minum sekarang", tagih saya kepadanya. Dia hanya mengangguk dan setelah itu membalikkan badannya. Terlihatlah olehku dua buah tonjolan di dlmnya yang selama ini belum pernah saya lihat secara langsung.

Sebelumnya saya hanya mengintip. Setelah itu dia menyodorkan dadanya kepada saya dan dgn cepat saya sambar dgn mulut saya. Dia hanya mendesis tidak jelas. Lama saya menghisap dan menjilat kedua dadanya membuat dia terus menggelinjang dan menjambak rambut saya. Dadanya kanan kiri secara bergantian menjadi korban keganasan lidah saya. Mbak Rasti setelah itu secara lembut membuka kaos saya dan tanpa saya sadari kaos saya sdh terlepas. Mungkin sebab keasyikan meminum susu alam. Sementara tangan saya yang kiri mulai meraba-raba perutnya sedangkan yang kanan mengusap-usap dadanya yang sebelah kanan. Sementara mulut saya dgn menjulurkan lidah keluar mempermainkan puting susu yang sebelah kiri yang membuat Mbak Rasti semakin ngos-ngosan. Tangan saya sebelah kiri mulai nakal dgn menyusupkan jari-jarinya ke celana tidurnya yang belum dibuka.

Tangan Mbak pun tidak mau kalah, dia pun mulai mencari-cari sesuatu di selangkangan saya dan sesdh menemukannya dia pijat dgn lembut. Kemaluan saya yang merasakan ada rangsangan dari luar celana semakin meronta minta keluar. Mbak Rasti yang sdh berpengalaman itu setelah itu membuka reitsleting celana saya dan setelah itu melorotkannya ke bawah dgn menggunakan kakinya sebab dia tidak bisa membungkuk sebab dadanya sekarang masih berada dlm kekuasaan saya.

Sesdh CD saya dibuka, tangannya yang sekarang lebih nakal mulai mengocok perlahan batang kejantanan saya dan itu jelas saja membuat saya terbang tinggi, sebab baru kali ini batang kejantanan saya yang satu ini dipegang oleh tangan seorang wanita yang lembut. Mbak Rasti makin menjadi saat jilatan saya turun ke perutnya dan bermain di sekitar pusarnya dan setelah itu dgn sekali tarik celana tidur yang dari tadi menghalangi pemandangan indah saya buka dan sekarang di depan saya berdiri seorang wanita hanya dgn celana dlm krem yang jika diperhatikan lebih seksama bisa dilihat transparan, tapi siapa yang sempat melihat ketransparanannya itu kalau sdh terangsang.

Jilatan saya turun agak ke bawah menuju ke kemaluannya yang ditumbuhi bulu-bulu yang rapi namun sebab sdh basah terlihat acak-acakan. Saya menjilati liang kemaluannya dari luar CD-nya. Itu sengaja saya lakukan supaya bisa lebih merangsangnya. Dan ternyata benar dia tidak sabar dan segera menurunkan CD-nya sendiri. Saya hanya tersenyum memandang ketidaksabarannya itu, dan jilatan saya lanjutkan tetapi tetap belum menyentuh lubang kenikmatannya itu yang membuat dia blingsatan dgn menggerakkan pinggulnya ke kiri dan ke kanan yang bertujuan supaya jilatan saya berlanjut ke liang kemaluannya. Saya lihat kemaluannya sdh banjir, sebab tidak pernah merasakan cairan dari wanita maka jilatan saya pun merambah ke liang kemaluannya. Asin! tapi kok enak yah kata saya dlm hati.



Mbak Rasti pun kembali mendesis keenakan, "Ahh.. terus Tango", ujarnya. Lidah saya pun mulai bermain cepat. Tiba-tiba tubuh Mbak Rasti mengejang dan diikuti dgn desahan panjang, "Ahh.. nikmat sekati Tango. Pemanasan kamu sungguh hebat. " Setelah itu dia pun duduk di lantai kamar mandi dgn perlahan. Sesdh puas dgn kemaluannya, saya kembali ke atas dan mencoba untuk melumat bibirnya. Bibir yang dari tadi mendesis tidak karuan itu setelah itu melumat bibirku yang baru saja sampai di depannya. Lama kami saling melumat sambil tangan kanan saya memainkan puting susunya dan tangan yang satunya lagi mencari lubang kewanitaannya dan menekan-nekan klitorisnya yang jelas saja membuat lumatan bibirnya semakin menjadi. Tangannya pun tidak mau kalah, sambil berpagutan dia mencari kembali batang yang tadi sempat dilepasnya sebab kenikmatan yang dia rasakan.

Sesdh ketemu, setelah itu dia mulai menggerak-gerakkan tangannya mengocok kemaluanku yang sdh sangat tegang dan membesar sambil sesekali mengusap bagian kepalanya yang sdh mengeluarkan cairan bening kental. Setelah itu secara perlahan-lahan saya mendorong kepalanya ke belakang supaya dia rebah ke lantai kamar mandi. Sesdh dia rebah, Mbak Rasti mendorong dada saya lembut yang membuat saya terduduk dan dia setelah itu bangkit kembali. Saya terkejut, saya mengira dia telah sadar dgn siapa dia sedang bermain, namun dgn sesaat keterkejutan saya hilang sebab dia setelah itu dgn sikap merangkak memegangi kelamin saya dan setelah itu dia malah memasukkan kelamin saya ke mulutnya.

Ahh.. terasa nikmat sekali sebab Mbak Rasti sangat pandai memainkan kemaluan saya di dlm mulutnya. Saya bisa merasakan lidahnya bermain dgn lincahnya. Saya juga merasakan kepala kemaluan saya dipermainkan dgn lidahnya yang lincah itu. Sesdh bermain lama di bawah situ, mulutnya setelah itu merambah ke atas menciumi perut, setelah itu dada saya dan setelah itu kembali ke mulut saya, namun sebab saya tahu dia baru saja melepaskan mulutnya dari kemaluan saya, saya berusaha menghindar dari lumatan bibirnya dan mencoba supaya dia tidak tersinggung dgn mencium pipinya dan setelah itu telinganya. Tangan saya yang menganggur setelah itu saya suruh bekerja lagi dgn mengusap-usap selangkangannya dan terdengar dia berbisik kepada saya, "Masukkan ahh.. sekarang yahh, Mbak udahh kepmau.. banget.. nih.. ahh. "Saya setelah itu mengambil inisiatif dgn mendorong Mbak Rasti supaya kembali rebah dan dgn perlahan dia menuruti kemauan saya dgn rebahan di lantai kamar mandi. Saya setelah itu mengambil segayung air dan menyiramkan ke tubuhnya dan setelah itu satu gayung lagi untuk disiramkan ke tubuh saya sendiri.

Sesdh kami berdua basah, tangan kanan saya setelah itu meremas-remas dadanya sedangkan tangan kiri saya memegang kejantanan saya menuju ke lubang sejuta kenikmatan. Mbak Rasti pun sdh siap menerima terjangan saya dgn membuka kedua kakinya supaya memudahkan saya memasukinya. Dgn perlahan tapi pasti saya mencoba untuk memasukkan kepunyaan saya yang dari tadi sdh tegak ke kemaluannya. Namun sebab sdh lama dia tidak tersentuh laki-laki, membuat saya agak susah juga untuk menancapkannya. Beberapa kali saya arahkan batang saya, namun agak susah untuk berhasil, dan sesdh beberapa tusukan, akhirnya kelamin saya masuk dgn sukses ke selangkangannya.

Yah, cengkeraman liang kemaluannya sungguh nikmat, sebab saat itu liang kemaluannya sangat sempit dan itu sdh membuat saya merem melek, dan dgn gerakan pelan saya mulai menaik-turunkan pinggul saya. Saya melihat Mbak Rasti mengerang kenikmatan sampai bola matanya hilang, dan dia juga meggerak-gerakkan pinggulnya ke kiri dan ke kanan dgn maksud supaya semua ruang di liang kemaluannya terjejali dgn kemaluanku yang sdh mulai memompa. Setiap pompaan membuat dia mendesah tidak karuan.

Sesdh beberapa menit, dia setelah itu memelukku dgn erat dan membalikkan tubuhku dan tubuhnya. Kini dia sdh berada di atasku, dan gantian dia yang menaik-turunkan pinggulnya mengejar kenikmatan yang tiada tara. Sementara itu tanganku yang sdh bebas kembali memainkan susunya dan mengusap-usap punggungnya. "Ssaayyaa.. udah ahh.. mau.. keeluar nihh.." desahnya. Mendengar desahannya yang begitu seksi saya semakin terangsang dan saya mulai merasakan ada sesuatu tenaga dlm yang mau dikeluarkan dan semua sepertinya sdh terkumpul di kejantanan saya. "Saya juga udah mau keluar Mbak..!" desis saya mempercepat gerakan pinggul saya dari bawah.



"Tahann.. sebenntaarr.." katanya. "Biaarr.. Mbak kee.. luar dulu.. ouhh.."Saya pun mengerti untuk tidak mengeluarkannya di dlm, sebab dgn alasan apapun saya tidak mau sperma yang saya keluarkan ini menjadi anak dari rahim bibi saya. Saya berusaha untuk menahan, sesaat setelah itu terasa cengkeraman di kelamin saya terasa kuat dan terasa hangat, tubuh Mbak Rasti kembali mengejang. Kalau saya tidak mencabut kemaluan saya dgn sedikit mendorong perut Mbak Rasti, mungkin saya pun akan mengalami orgasme bersamaan dgn Mbak Rasti. Untung saja saya sigap, sesaat setelah itu Mbak Rasti terkulai lemas di atas tubuh saya menikmati sisa-sisa kenikmatan. Paha saya terasa hangat sebab pelumas yang keluar dari liang kemaluan Mbak Rasti.

Saya pun memeluknya, dan membalikkan tubuhnya sebab saya belum terpuaskan saya pun kembali merangsang Mbak Rasti dgn jilatan di sekitar selangkangannya. Sesdh berkisar 3 - 4 menit Mbak Rasti kembali terangsang dan menyuruh saya memasukkan lagi kepunyaan saya ke dlm kemaluannya. Tanpa ba-bi-bu lagi, langsung saya tancapkan ke dlm kemaluannya. Kali ini lebih mudah sebab kemaluan kami berdua memang telah licin. Sesdh memompa beberapa menit, saya kembali merasakan gelombang kenikmatan dan dgn segera saya mencabutnya dan mengocok-ngocoknya dgn tangan sendiri. Namun tidak disangka, Mbak Rasti setelah itu menangkap kemaluan saya dan menggantikan tangan saya dgn tangannya dan setelah itu memasukkan kemaluan saya ke dlm mulutnya. Ahh.. terasa sungguh nikmat, apalagi permainan lidahnya membuat saya tidak bisa bertahan lama dan akhirnya semua saya keluarkan di dlm kuluman mulutnya.

Tapi saya tidak melihat dia melepaskannya, dia seakan tidak mau melepaskan kemaluanku yang sedang muntah dan dia menghisap habis semua muntahannya tanpa sisa. Sesdh saya merasakan pelumas dari dlm tubuh saya habis, batang kemaluan saya pun perlahan-lahan kembali mengecil. Melihat hal itu, Mbak Rasti setelah itu melepaskan batang kemaluan saya, dan tersenyum kepada saya. Setelah itu dia berbisik, "Tango, terima kasih yah, Mbak udah lama nggak menikmatinya dari pamanmu, entar lain kali kalau ada kesempatan bisa kan kamu puasin Mbak lagi?" Dgn masih terduduk di lantai saya mengangguk sambil tersenyum nakal kepada Mbak Rasti.

saling membersihkan diri dan sesekali tangan saya bergerak nakal menyentuh payudaranya yang tadi pentilnya sempat mencuat. Sesdh kejadian pertama itu, kami pun sering melakukannya di hari Minggu atau hari-hari libur dimana keadaan rumah sedang sepi. Kadang di kamar mandi, kadang di kamarnya. Namun sesdh beberapa bulan kami melakukanya, dia mendengar bahwa suaminya yang di luar negeri sdh menikah lagi dan dia pun memutuskan untuk kembali ke rumah orang tuanya di Jakarta. Dan sesdh kepergiannya atau lebih tepatnya kepulangannya ke Jakarta saya tidak pernah mendengar kabarnya lagi sampai sekarang.

- Agen Poker
- Agen Domino
- Poker Online
- Domino Online


Bonus deposit 100% untuk Member baru dengan maksimal bonus Rp.30.000, ( Claim hanya 1x ) hanya dengan syarat yang sangat mudah yaitu TurnOver sebesar Rp.100.000 langsung bisa melakukan Withdraw
Buruan daftarkan diri Anda >> Daftar <<

Cerita Dewasa: Mainan Pembawa Kenikmatan

Jam 18. 30 aku dan Linda sdh meluncur di jalan. Ia menunjuk sebuah Mall, maka ke sanalah mobilku kuarahkan. Dr keterangan Linda pula aku th nanti mesti menuju ke salah satu sudut cafe terbuka di Mall tersebut. Di sana, menurut Linda pula, kita tinggal menjatuhkan apa saja. bisa sapu tangan, korek api, atau barang belanjaan. Setelah itu akan ada laki-laki yang berlagak mengambilkan barang yang jatuh itu. Kalau kita suka pada laki-laki itu tinggal bilang "OK" tapi kalau tdk suka tinggal bilang "Thanx. " "Kalau OK, mainan itu akan langsung nguntit kita, hi, hi, hi. . , " jelas Linda sambil cekikikan.



Agen Domino Online Indonesia Terpercaya - Aku pun menyambutnya dgn tertawa dan masih ada perasaan-perasaan tegang.

 
"Kamu bilang mainan?" tanyaku. "Ya, kita semua di tempat fitness menyebutnya mainan, mainan pembawa nikmat, hi, hi, hi. . , " kata Linda lagi masih ditutup dgn tawa. Untung lalulintas tak begitu padat hingga tepat jam 19. 00 kami sdh tiba di sana. Cafe yang disebut Linda ternyata hanya warung terbuka biasa yang menjual aneka minuman dan makanan ringan. Tampak di sana sejumlah anak muda laki-laki dan perempuan. "Yang cewek nyari cowok, yang cowok nunggu panggilan cewek, " bisik Linda, dilanjutkan aksinya menjatuhkan saputangan tanpa menghentikan langkah melewati cafe tersebut. Aku pun tak mau ketinggalan menjatuhkan kaca mata gelapku. Betul saja tdk lama kemudian ada dua anak muda menghampiri dan mengembalikan barang-barang tersebut.

Aku pandangan si pembawa kacamataku, seperti terkena sihir mulutku otomatis mengatakan "OK, " demikian pula Linda yang mungkin merasa cocok dgn anak yang menghampirinya. Tanpa basa-basi lagi kami memutuskan untuk segera meninggalkan tempat itu. Setibanya kembali di tempat parkir, dua anak muda itu masing-masing mengenalkan diri. "Ronny, " kata pasangan Linda sambil mengecup pipi Linda kemudian menjabat tanganku. Linda pun membisikan namanya. "Alvin, " kata pasanganku sambil mengecup dan menggandeng pinggangku. "Oh, " hatiku terasa melayang meski hanya digandeng begitu saja. Kemudian kubisikan pula namaku.

Suasana yang lama hilang serasa kembali lagi. Segera pula kurugoh tas kecilku untuk mengambil kunci mobil. Begitu hendak membuka pintu mobilku, Alvin merebutnya sambil berbisik, "Biar Ronny saja yang nyetir, kita di belakang. " Aku langsung mengangguk menyetujuinya. Kami meluncur ke arah utara kota. Baru saja beberapa ratus meter meninggalkan halaman Mall, tangan Alvin sdh mulai beraksi. Ia mengusap-usap leherku, kemudian mendekat dan menciuminya dr samping. Tak ayal aku menggelinjang. Ciuman Alvin menjalar ke kuping, terus melaju, dan akhirnya mendarat di bibirku. Mendapat serangan yang sdh lama kurindukan, kontan kubuka bibirku langsung menyambut juluran lidah Alvin.

Kami pun berpagutan cukup lama. Dr sudut mataku kulihat Linda pun merapat, terlihat gerakan tangannya menghampiri celana Ronny. Sejenak tampak Ronny mengangkat badannya, rupanya ia memberi ruang pada Linda untuk membuka resleting celananya dan mengeluarkan kemaluannya. "Ehmm. . lumayan besar, " demikian terdengar suara Linda, tapi tak kulihat lagi kepalanya karena sdh merunduk tenggelam di pangkuan Ronny yang sedang menyetir. Selanjutnya hanya kudengar suara kecupan dan kuluman mulut Linda yang rupanya sedang melakukan oral di kontol Ronny.



Aku sendiri mulai sibuk, lidah kami saling melilit dlm ciuman yang sangat hot. Alvin mulai meraba-raba pahaku, kemudian naik hingga sampai di bagian "V" celana dlmku. Aku bergeser memberikan ruang bagi tangannya agar bisa tepat di celah belahan memekku. Sementara tanganku pun mulai berani merayap tepat di atas sebentuk benda tegang di balik celananya. Kuelus-elus benda hangat yang berada di balik celana itu, dgn jari telunjuk dan jempol kujelajahi sepanjang batangnya. Aku punya kesimpulan kontol Alvin relatif besar, dr pengalamanku pula aku yakin saat itu belum mengeras sepenuhnya.

"Kalau sdh ngaceng sepenuhnya tentu besar sekali, " begitu pikirku. Alvin masih mengelus-elus celah memekku dr luar dgn jari tengahnya. Aku yakin celana dlmku jadi basah karenanya. Sementara itu mobilku terus melaju di tengah keramaian kota. Untung seluruh kaca mobilku berlapis pelindung cukup gelap. Kami bisa melihat ke luar tapi orang-orang di luar tak pernah th apa yang kami perbuat. Ada juga perasaan aneh ketika melakukan itu semua di tengah keramaian, tapi yang jelas nafsuku menjadi lebih bergelora hingga pagutanku di mulut Alvin kian ganas. Apalagi ketika mobil berhenti di lampu merah, aku malah membayangkan orang-orang di mobil di kiri-kanan kami sedang menyaksikan adegan-adegan hot ini. Begitu pula ketika ada orang lewat menyebrang, ingin rasanya aku ditonton mereka.

Ahh. . pendeknya pengalaman baru yang sungguh mengasyikan. Tanganku pun mulailah membuka ikat pinggang celana Alvin, langsung pula menarik resletingnya. Langsung kontolnya meloncat keluar karena ternyata Alvin tak memakai celana dlm. "Wow, besarnyaa. . , " teriakku agak kaget begitu melihat kontol Alvin. Lantas sambil menggenggam batang kontol pacar baruku itu aku berbisik, "Vin, apa kesukaanmu?""Blow job, " jawab Alvin ringkas. Aku terdiam belum mengerti. "Iseplah. . , " kata alvin menjelaskan. Aku pun senyum dgn menggenggam kontolnya lebih erat lagi, "Jadi blow job itu artinya ngentot pakai mulut?" tanyaku bermanja-manja dan pura-pura bodoh.

Setelah itu tak byk bicara lagi kujilati bagian kepala kontolnya Alvin. Ini adalah bagian pemanasan yang paling kusuka ketika Amri masih hot-hotnya. Maka ketika kujilati, kuciumi, dan kuemut-emut kepala kontol Alvin, aku melakukannya dgn intens sekali. Alvin pun segera melenguh merasa nikmat, tangannya dgn agak kasar menyingkapkan celana dlmku ke pinggir hingga jarinya kini bisa menyentuh langsung alat kenikmatanku yang sdh lama tak tersentuh laki-laki itu. "Sluurrpp. . , " mulutku maju lebih jauh lagi melahap batang kontol Alvin, sejenak kutahan di sana sambil kurasakan bahwa kontol Alvin ternyata masih tumbuh membesar. Th begitu maka aku merangsangnya lebih keras lagi karena ingin segera th seberapa besarnya jika sdh ngaceng sepenuhnya.

"Sluurrpp. . , " mulutku maju lagi hingga separo kontol Alvin masuk, terasa ada yang berdenyut dan tumbuh mengembang. Kubiarkan kutahan di dlm, dan kian lama terasa mulutku kian penuh hampir tak bisa lagi menampung kebesaran kontolnya. Saat itulah kulepas mulutku, kupandangi benda yang ternyata tampak gagah sekali itu. Seluruh batangnya mengkilat karena basah oleh ludahku, kugenggam di bagian pangkalnya, kogoyang-goyang. . Ohh. . benda yang sangat kurindukan kini ada digenggamanku. Sekali lagi "Sluurrpp. . , " kulahap sekaligus kontolnya. Kini kuusahakan bisa masuk sedlm mungkin. Ternyata betul-betul sungguh besar, hanya lebih sedikit dr setengahnya sdh menyentuh tenggorokanku. Agak sesak tapi kubiarkan tenggelam di dlm untuk beberapa saat. Sambil kuemut-emut kontolnya, perlahan-lahan kupelorotkan celana Alvin hingga lepas. Seusai itu, Alvin pun berusaha memelorotkan celana dlmku. Di ruang kursi mobil yang sempit, ternyata usaha melepas celana dlm itu menjadi tdk mudah.



Masalahnya aku mau melepasnya tanpa mau melepas kuluman mulutku di kontolnya, demikian pula Alvin seperti tak mau kehilangan memekku. Setelah berjuang keras akhirnya lepas pulalah celana dlmku. Alvin kini dgn merdeka mulai bisa menusukan jarinya yang besar. Ohh. . baru dgn jari itu saja aku sdh merasa melayang, maka kurespon sodokan jarinya dgn memaju-mundurkan pantatku, sementara mulutku pun mulai mengangguk-angguk memberikan gerakan kontol Alvin agar keluar-masuk. "Ohh. . Tarsih, ohh. . dewiku, sedap sekali sedotanmu. . memekmu pun sungguh masih ketat sekali. . aku pengen segera mengentotnya, " erang Alvin karena nikmat.

Aku merasa begitu tersanjung, maka segera aku lepaskan kuluman, naik ke pangkuannya dgn kontol Alvin diusahakan tak lepas dr genggamanku. Kedua kakiku kini ada di atas kursi mobil, dgn posisi jongkok begini kusentuh-sentuhkan kepala kontol Alvin di celah memekku, sesekali disentuhkan pula ke kelentitku yang sdh sangat peka. Kemudian, "Bless. . " sekaligus kutanamkan kontol besar itu dgn tak sabar. "Ohh. . ahh. . , " aku pun mengerang karena kaget sendiri merasakan kontol yang begitu besar melesak masuk. Demikian kerasnya eranganku sehingga membuat linda bangkit dr kegiatannya kemudian melirik ke belakang. "Gimana, asyik Teh Tarsih?" tanya Linda menggodaku yang sedang nikmat. "I. . i. . yaa, Linda. . Kontol Alvin gede sekali, asyik sekali, " jawabku sambil mulai menggoyang-goyangkan pinggulku.

Pada saat itu pula sempat kulihat lagi keramaian kota. Dgn posisi sdh mulai sanggama, dlm keadaan kontol pasanganku sdh tertanam di memek laparku, melihat keramaian di luar kian membuat aku terangsang lagi. Maka kugenjot kontol Alvin lebih hebat lagi, hatiku seolah-olah berteriak kepada orang-orang di jalanan, "Heii. . orang-orang lihatlah. . lihatlah aku lagi ngentot dgn nikmat sekali. . ngentot kontol gede. . hhmmhh. . ahh. "Gerakan pantatku turun-naik di atas kontol Alvin kian cepat, Alvin pun sesekali membalasnya dgn mengangkat pantatnya hingga kontolnya tertanam sepenuhnya di memekku. Rasa dahagaku yang sdh cukup lama tak merasakan kontol, rupanya membuat nafsuku jadi sangat berlebihan, sehingga aku tak bisa mengontrol dan membuat persetubuhan berlangsung begitu cepat. "Ohh. . Vin, Alvin. . entot terus, entot memekku yang lapar ini. . entot, jangan berhenti. . ohh teruss. . aku hampir sampai di puncak. . teruss. . ohh. . ohh. . ohh. . ahh!" Sebuah erangan panjang menandakan aku sdh mencapai orgasme.

Sementara aku th bahwa Alvin masih segar bugar. Karena itu kuelus kepalanya untuk menghibur, sementara Alvin membenamkan wajahnya di celah buah dadaku. Dgn kontol yang masih tertanam di memekku, dijilatinya seluruh celah dr lembah payudaraku, kemudian naik ke puting susu sebelah kiri, melintas lagi di celah lembahnya dan pindah ke puting susu sebelah kanan, sesekali mendarat agak lama di salah satu puting susuku yang sejak tadi sdh begitu keras. Di isap-isapnya di situ, adakalanya digigit-gigit kecil sehingga menimbulkan rasa geli bercampur nimkat. Sampai pada adegan ini sdh terpikir pula untuk membalas kenikmatan yang telah diberikan oleh Alvin, tapi sementara itu pula aku berkesempatan melihat ke arah luar jendela mobil untuk melihat ke arah mana kira-kira mobil ini melaju.

Dgn sekilas aku segera th mobil sedang melaju ke rah utara, maka aku tanya ke Ronny atau pun Linda yang juga sedang asyik di depan, "Heh, sedang menuju ke mana kita ini?"Yang menjawab ternyata Linda dgn tanpa mau melepaskan emutan mulutnya di kontol Ronny sehingga suaranya seperti suara orang yang tersumpal, "Mmpphhff. . ki. . fftaa. . kee. . ff 'L" saa. . phhjaa. . di sana. . phhpp. . ada hotel mmff. . hotel. . yang asyikk. . mmff. . slrupp. "Aku sebetulnya setuju-setuju saja, tapi tiba-tiba saja muncul pikiran lain sehingga aku protes, "Nggak, deh, oohh. . eyy. . , " kalimatku terhenti karena kaget dan geli oleh gigitan Alvin di puting susuku, "Balik ke rumahku saja. . , " lanjutku sambil tetap mengelus-elus kepala Alvin yang terasa pula kontolnya masih berusaha menusuk keluar-masuk di memekku.

Mendengar protesku Linda yang tenggelam di antara selangkangan Ronny tiba-tiba bangkit, "Bener nih?""Serius, kita balik ke rumahku saja. . " jawabku tegas. Ronny dan Linda tampak sejenak saling pandang, tapi kemudian sepakat tak berani melawan permintaanku. Maka di satu persimpangan Ronny memutar balik haluan, kemudian meluncur menuju ke rumahku yang sedikit agak di bagian selatan pusat kota. Setelah th kendaraan yang kami tunggangi menuju arah balik, maka aku pun segera ingat kepada tugas ingin membalas kenikmatan yang telah diberikan Alvin. "Kamu. . belum keluar, ya, sayang. . kontolmu masih ngaceng keras. . biar aku bikin keluar, yaa. . , " kataku sambil mengangkat kepala Alvin kemudian memagut bibir, dan kami kembali berciuman cukup lama.

Tanpa melepaskan bibir dan lidah kami yang saling berjalin, aku mengangkat tubuhku pelan-pelan sehingga sedikit demi sedikit kontol Alvin keluar dr jepitan memekku. Menjelang kepala kontolnya lepas cepat-cepat tangan kiriku menuju ke bawah untuk menyambutnya dan menggenggamnya. Terasa sekali kontol Alvin begitu licin karena basah oleh cairan orgasme yang tadi telah keluar dr memekku. Sambil sedikit kukocok-kocok kontol yang licin itu, aku berbisik pada Alvin, "Kamu pernah di 'tits-fucking, ' dientot pake payudara, sayangg. . Sini aku kasih tits-fucking sambil sesekali aku sedot kontolmu dgn mulutku yang haus ini, yaa. . ". "Belum. . pernah, ohh. . asyik sekali. . sejak semula aku sdh tertarik sama susu gedenya Tante Tarsih. . asyik sekali kayaknya dijepit di sana. . ayo, dong, Tante. . Al sdh tak tahan nih. . , " jawab Alvin kelihatan sdh tak sabar.

"OK sayang. . sini taro kontolmu di antara susu Tante. . , " kataku sambil menyangga kedua susuku dgn kedua tanganku. Posisiku agak sedikit turun dr jok mobil, sementara Alvin sedikit naik dgn mengarahkan kontolnya di antara celah dua bukit payudaraku. Begitu tiba di sana langsung aku sambut dan aku tekan payudaraku hingga menjepit kontol Alvin. "Ahh. . uuhh. . Tantee. . , " lenguh Alvin kenikmatan sambil mulai mengocok-kocokan kontolnya di sana. Kontolnya yang memang lumayang panjang dan gemuk, sesekali bagian kepalanya menyentuh daguku. Dgn begitu memudahkan aku untuk bisa menyambutnya dgn mulutku.

Dgn sedikit merunduk dgn mulut telah siap terbuka, maka kontol Alvin pun sesekali masuk di mulutku. Setelah beberapa kocokan, Alvin menghentikan gerakannya. Aku th Alvin minta kontolnya diisap, maka segera pula aku merunduk agak jauh lagi sehingga sebagian kontolnya bisa masuk ke mulutku. Kutahan dan kubiarkan terbenam di sana untuk beberapa saat, ketika di dlm kuemut-emut mulutku sambil menggerak-gerakan lidahku menyentuh-sentuh batang dan kepala kontol Alvin. Ohh. . luar biasa sekali, aku bisa merasakan langsung bekas cairanku sendiri di kontol Alvin.

Adegan dan wanginya cairan memekku sendiri ini sungguh membuatku terangsang kembali. Nafsuku untuk bersetubuh sdh kembali pulih, ingin sesungguhnya aku segera naik kembali menunggangi kontolnya Alvin. Tapi kuputuskan untuk meneruskan memberikan tits-fucking sambil melomoh-lomoh kontolnya dan sesekali kusedot-sedot, kuisap-isap. Alvin sendiri kelihatan sekali merasa nikmat dan bahagia dgn pelayanan itu, "Oohh. . emmhh. . nikmat sekali rasanyaa. . Tantee. . teruss. . jepit terus dgn susu tante yang gede itu. . ohh. . ya, sedott, jangan berhenti. . tantee. . sedapp, wah sdh kuduga tante ini hebat. . aku mau deh setiap hari ngentot sama Tante Tarsih, " kicaunya.

Mendapat pujian itu ditambah birahiku sendiri, maka aku kian bersemangat menjepitkan susuku dan nyedot kontolnya sampai pipiku kempot saking kuatnya. Kurasakan gerakan maju-mundurnya Alvin pun kian deras, kontolnya terasa sdh sangat tegang sekali, aku th itu adalah tanda-tanda Alvin sdh kian dekat ke puncak kenikmatannya. Tak ayal aku pun mengimbangi gerakan-gerakan pantatnya dgn semakin bersemangat. Hingga tak lama kemudian, "Oohh tantee. . teruuss. . aku sdh hampir. . sdh dekatt. . teruss. . ohh. . uhh. . mmhh. . ohh. . uhh. . mmhh, aku tak tahan lagii. . keluarin di mana tantee. . , " erangan dan kicauan Alvin bercampur aduk. "Keluarin di mulutku saja. . sayangg. . ohh. . mari penuhi mulut tante yang lapar ini dgn spermamu yang hangat. . ayo keluarin. . sayangg, " jawabku ingin segera melihat pasanganku mencapai puncak kebahagiaannya. "I. . i. . ini dia tantee. . aku keluarr. . huuhh. . ahh. . , " teriak Alvin, bersamaan dgn itu kurasakan kontolnya menjadi super tegang diiringin meletupnya semburan air mani dr kontolnya hingga membentur pangkal tenggorokanku.



Begitu byk air mani yang ia keluarkan hingga mulutku tak sanggup menampungnya. Sebagian langsung kutelan, sebagian lagi kubiarkan keluar di atas kedua payudaraku sambil tak henti-hentinya aku teruskan mengocok kontolnya. Luar biasa sekali, ketika kukocok di luar pun sperma Alvin masih meluap demikian byk sehingga membanjiri seluruh permukaan buah dadaku, kemudian meleleh turun membasahi sebagian perutku. "Mmhhmmffhh. . Al, sayangku. . luar biasa byk sekali sampai banjir. . , " kataku sambil menyusut air maninya yang turun ke perut untuk kemudian kujilati lewat tanganku hingga bersih. Begitu pula yang membasahi buahdada-ku, aku coba untuk menyendoknya dgn tangan kemudian aku lahap pula, lantas dgn sengaja kuperlihatkan pada Alvin ketika menjilat jari-jariku yang masih bersisa air maninya, berulang-ulang kujilat hingga bersih.

Tak lama kemudian terdengar kehebohan di kursi depan, Linda setengah berteriak-teriak sambil mengocok kontol Ronny yang masih tetap di belakang kemudi. "Ayoo. . Ronny-ku, keluarkan. . tuntaskan sayang. . aku nggak mau kalah sama Teh Tarsih. . aku pun ingin sperma hangatmu. . ayo keluarkan. ""I. . i. . iya tante Linda, kocok terus, saya sdh hampir, kocok yang keras. . ehh. . sambil diemut lagi. . tante. . , " pinta Ronny.

Kemudi mobil sedikit agak bergoyang, aku dan Alvin saling berpandangan lantas tersenyum. Kontol Alvin yang sdh melembek masih di dlm elusan tanganku, Alvin pun dgn mesra tak lepas-lepasnya mengelus bibir memekku sambil mengecup-kecup puting payudaraku. Rupanya dia betul-betul terpesona oleh kebesaran buah dadaku. Lagi-lagi suara Ronny terdengar, "Yaa. . yaa. . ahh. . uhh. . ya tante, hampir tante. . aku mau keluar nihh. . ""Ya, ya, ya, keluarkan saja di mulutku, " kata Linda yang rupanya tak mau kalah dgn aku. "Emmhh. . ahh. . tantee. . aku keluarr. . , " erangan panjang terlepas dr mulut Ronny. Tapi bisa kupastikan Linda sedang sibuk dgn limpahan sperma pasangannya.

Tak ayal, mobilku pun jadi penuh oleh aroma sex. Aku sendiri, anehnya, merasa begitu bahagia dan sangat menikmati permainan yang nikmat ini. Tanpa terasa mobil yang kami tumpangi sdh berada di depan gerbang rumahku. Linda tiba-tiba bangkit dr kursi depan lantas bertanya kepadaku, "Eh, Teh Tarsih. . ini betul, serius. . gimana kalau suamimu ada di rumah?""Serius, dan memang aku ingin dia th, " jawabku tegas. "Yang bener?" tanya Linda lagi masih ragu. "Bener, ayo Ronny masuk saja jangan ragu-ragu, " kataku. "Baik, tante, " jawab Ronny sambil memasukan mobil. "Ya, nanti kita teruskan lagi permainannya, ya!" sambungku dgn suara menggoda. Mobil pun masuklah ke halaman rumah, langsung masuk garasi dan kami segera turun dgn pakaian masing-masing yang masih berantakan. Pakaianku basah di bagian depan karena terkena limpahan spermanya Alvin.

- Agen Poker
- Agen Domino
- Poker Online
- Domino Online


Bonus deposit 100% untuk Member baru dengan maksimal bonus Rp.30.000, ( Claim hanya 1x ) hanya dengan syarat yang sangat mudah yaitu TurnOver sebesar Rp.100.000 langsung bisa melakukan Withdraw
Buruan daftarkan diri Anda >> Daftar <<

Cerita Dewasa: Terpesona Mama Tiriku Didalam Gudang

Namaku tidak usah di sebutin ya. Aku mempunyai seorang mama tiri. Mama tiri saya itu, seperti kebanyakan wanita wanita lain, sangat senang dengan tanaman. Di usia nya yang separuh baya, hampir sebagian waktunya dihabiskan untuk mengurusi bunga-bunganya yang nyaris memenuhi seluruh halaman rumah kami yang luas. Setiap sore mama selalu berada di halaman belakang, terbungkuk - bungkuk merawat bunga-bunga kesayangannya. Jika liburan begini, biasanya sepanjang sore kubahiskan waktu untuk memperhatikan Mama. Terus terang, saya senang sekali mencuri - curi pandang pada gundukan payudaranya yang hampir menyembul dari belahan dasternya, pahanya yang sekali- sekali tersingkap jika Mama menungging, atau memeknya yang membayang dari celana dalamnya yang jelas terlihat sewaktu Mama berjongkok. Sewaktu waktu, dengan tidak sengaja, Mama membungkuk kearah ku yang lagi asyik duduk di gazebo.



Agen Domino Online Indonesia Terpercaya - Kedua belah payudaranya yang tanpa beha hampir seluruhnya keluar dari leher dasternya. Kedua putting payudaranya jelas-jelas terlihat.


Mungkin karena gerah, Mama tidak mengancingkan hampir separo kancing dasternya. Aku hanya bisa melongo, batang kontolku langsung ereksi, kalau nggak cepat cepat aku ngacir, mungkin Mama bisa melihat separo batang kontolku yang udah keluar dari pinggang celanaku. Suatu hari, aku benar benar ketiban rezeki. Nggak sengaja Mama memberikan tontonan yang membuatku terangsang berat. Seperti biasa aku sedang duduk duduk di gazebo, bertelanjang dada seperti biasa, aku hanya memakai blue jeans ketat kegemaranku.

Sambil mengembalikan kesadaranku, maklum habis tidur siang, aku menemani Mama di halaman belakang. Sambil ngobrol mengenai acara wisudaku, Mama asyik dengan bunga-bunganya. Entah kenapa, mungkin karena keasyikan ngobrol, Mama nggak sengaja jongkok tepat di depan mataku. Walaupun sedikit tertutup dengan tumpukan pupuk, dan ranting ranting daun, aku jelas - jelas melihat gundukan memeknya, mulus tercukur tanpa satu helai rambut. Ya ampun, mungkin Mama lupa memakai celana dalam !!!. Kontan aku jadi terangsang luar biasa. Saking terpananya, aku nggak peduli lagi sama batang kontolku yang udah menerobos keluar, menjulang gagah sampai ke atas pusarku. Aku baru sadar sewaktu Mama terbelalak melihat kontolku.

Jelas-jelas saja Mama kaget, saking panjangnya, kontolku kalo lagi ereksi bisa sampe ke ulu hati. Dengan wajah merah karena jengah, aku bangkit dan ngacir ke gudang belakang. Di tengah kegelapan ku buka resluiting jensku dan mulai mengocok kontolku. Tiba tiba pintu terbuka, membelakangai sinar matahari sore – Mama berdiri di pintu, tangan kanannya masih memegang sekop kecil. Mama menatap kontol raksasaku, dan jembutku yang lebat, kemudian menatap wajahku dan badanku yang kekar.

Aku hanya bisa melongo, tanpa berusaha menghentikan kocokan ku. "Ya ampun !", hanya itu yang keluar dari mulut Mama, entah apa yang dia maksudkan. Ku kocok sekali lagi kontolku, membiarkan Mama melihat kedua tanganku yang menggenggam erat pangkal dan ujung kontolku yang mulai memerah. Ku kocok lebih cepat lagi, sementara tangan kananku menarik celana dalamku ke bawah, biar Mama melihat kedua biji kontolku yang bergerak ke sana ke sini seirama kocokanku pada batang kontolku.


Terpana oleh pemandangan di depan matanya, atau mungkin karena melihat ukuran kontolku yang super besar, Mama beranjak masuk sambil menutup pintu gudang di belakangnya. Mama mendekatiku sambil mulai melepas satu persatu kancing dasternya dan kemudian melepaskannya, benar ternyata Mama tidak memakai beha. Kedua bulatan tetek-nya benar- benar membuatku terangsang, walaupun sudah turun namun ukurannya hampir sebesar melon. Minimnya cahaya yang masuk ke gudang membuat kedua pentilnya tidak jelas terlihat warnanya. Mungkin coklat kehitaman.

Aku hanya bisa berkata lirih , ", h, Mama, tetek Mama benar- benar hot!!". Dengan beberapa langkah, aku kedepan menyongsong Mama, sambil tanganku berusaha menggapai salah satu bulatan payudaranya. Sambil berjalan, kontolku tegak menjulang di udara. Aku benar - benar terangsang. Ku peluk pinggang Mama, mulutku terbuka dan lidahku menjulur keluar. Ujung lidahku akhirnya menyentuh pentil susu Mama yang besar dan kecoklatan. Astaga, kontolku serasa akan meledak. Tergesa gesa, Aku mengisap dan meremas teteknya yang lain dengan tanganku. Kontolku yang terjepit diantara perutku dan perut Mama tiba tiba mengeras lalu, cruttttttt cruttttttt crutttttttttt.. semprotan demi semprotan kontolku meledak menyemburkan cairan putih kental membasahi sebagian perut dan tetek Mama.

Tanpa perubahan ekspresi, Mama dengan tenang menggenggam batang kontolku dan meremas ujung nya, cairan maniku keluar lagi membasahi telapak tangannya. Di sela sela kenikmatan yang kurasakan aku hanya bisa menatap ke bawah, air maniku membasahi seluruh tangan dan lengan Mama, beberapa semprotan jatuh ke pangkal paha Mama. Masih di tengah keremangan gudang, tanpa banyak kata- kata, Mama meraih tanganku dan menggosok-gosokan ke memeknya.

Terasa gatal tanganku sewaktu telapak tanganku bergesekan dengan permukaan memeknya yang dipenuhi bulu-bulu pendek. Seumur hidupku baru kali inilah aku dapat melihat memek Mama dari dekat. Belum ada lima menit, aku keluar lagi, kali ini air maniku menyemprot tepat di permukaan memeknya.

Kali ini Mama memandangku sambil tersenyum. Aku jadi salah tingkah. Walaupun sudah dua kali aku keluar, batang kontolku masih keras, bahkan semakin keras saja, agak sakit jadinya. Mama semakin membuatku terangsang dengan belaian-belaian tanganku pada memek dan kedua buah payudaranya. Aku membungkuk ke depan dan mulai mengulum tetek Mama sementara tanganku yang lain meremas remas tetek yang lain. Membelai dan memencet pentilnya yang mengeras. Kedua tangan Mama menggenggam batang kontolku dan aku mendorong ke memeknya Di tengah desisan-nya Mama melenguh ketika ujung kontolku menyentuh memeknya. Di tariknya tanganku ke dalam.

Mama kemudian duduk di bibir bak mandi dan kemudian mengangkang-kan pahanya. Ku himpitkan badanku ke tubuh Mama, wajahku ku susupkan dicelah kedua bukit payudaranya. Ku hisap yang satu.. kemudian yang lain. Tangan Mama lagi lagi mencengkram batang penisku dan kemudian mendorongnya masuk ke dalam memeknya.



Kurasakan hangat dan basah, dan kemudian kudorong dengan pinggulku, hampir setengahnya, kemudian kurasakan sudah tidak bisa masuk lagi. "Sshh, egh.. !" Mama mendesis. Aku mulai memompa kontolku keluar dan masuk, mulutku tetap mengulum kedua teteknya bergantian. Semakin lama semakin cepat aku memompa, dan kemudian terasa aku akan keluar lagi. Mama mulai ikut memompa, menyambut tusukkan-ku. Menggelinjang dan mengerang. Tidak berapa lama kemudian Mama mengerang agak keras, dan aku bisa merasakan badannya tergetar sewaktu ia berteriak tertahan. Batang Kontolku kemudian menjadi semakin basah saat cairan hangat dan kental keluar dari memeknya. Aku masih terus bertahan memompa, dan kemudian, sewaktu aku merasa akan keluar, kudekap pantat Mama erat-erat dan ku benamkan batang kontolku sedalam dalamnya.

Kontolku kemudian meledak, semprotan demi semprotan air mani keluar, jauh didalam memek Mama. Separuh orgasme, kutarik keluar dan kukocok, air mani keluar lagi membasahi tetek Mama. Kugosok – gosokkan ujung penisku di kedua pentil nya yang membesar. Kemudian kutekan kedua bulatan payudara Mama dan menyusupkan batang kontolku di celah antara keduanya. Kugosok gosok kan terus sampai air maniku berhenti keluar. Mama tersenyum, dagu, leher dan dada Mama penuh dengan air maniku. Entah berapa banyak air mani yang kusemprotkan waktu itu.

Pada semprotan yang terakhir, aku melenguh keras. Takut jika ada yang mendengar.. Mama mendekap kepalaku di dadanya. Setelah itu kukenakan blue jeansku, sambil tersenyum malu aku keluar dari gudang itu. Sewaktu menutup pintu kulihat Mama mengguyur tubuhnya dan mulai menyabuni pangkal pahanya. Sungguh sexy dan aku terangsang lagi. "Mandi berdua dengan Mama ? Wow !" pikirku. Aku masuk lagi ke dalam. Mama melihatku mengunci pintu dan tersenyum kearahku penuh arti.

- Agen Poker
- Agen Domino
- Poker Online
- Domino Online


Bonus deposit 100% untuk Member baru dengan maksimal bonus Rp.30.000, ( Claim hanya 1x ) hanya dengan syarat yang sangat mudah yaitu TurnOver sebesar Rp.100.000 langsung bisa melakukan Withdraw
Buruan daftarkan diri Anda >> Daftar <<

Sunday, November 22, 2015

Nikmatnya dientot dua pembantu kontol gede

Hari ini adalah hari pertama Aldi bersekolah sehingga aku sangat bersemangat sekali, setelah semuanya sudah beres aku meminta pak Rojak untuk mengantarkan Aldi ke sekolahnya yang baru, beberapa saat Aldi terseyum ke arahku sebelum dia berangkat ke sekolah. Seperti pada umumnya ibu rumah tangga, aku berencana menyiapkan makanan yang special untuk Aldi sehingga aku memutuskan untuk memasak sesuatu di dapur, tetapi saat aku melangkah ke dapur tiba-tiba kakiku terasa kaku saat melihat kehadiran pak Isa yang sedang melakukan hubungan intim dengan mba Ani, mereka yang tidak menyadari kehadiranku masih asyik dengan permainan mereka

Agen Domino Online Indonesia Terpercaya - “Hmm… APA-APAAN INI?” bentakku ke pada mereka, mendengar suaraku mereka terlihat tanpak kaget melihat ke hadiranku, “kalian benar-benar tidak bermoral, memalukan sekali!”



Mereka tanpak terdiam sambil merapikan kembali pakaian mereka masing-masing, beberapa saat aku melihat penis pak Isa yang terlihat masih sangat tegang, sebenarnya aku sangat terkejut melihat ukuran penis pak Isa yang besar dan berurat, berbeda sekali dengan suamiku,
“maafin kami Bu,” kini Ani membuka mulutnya, sedangkan pak Isa masih terdiam,
“Maaf… kamu benar-benar wanita murahan, kamu tahu kan pak Isa itu sudah punya istri kenapa kamu masih juga menggoda pak Isa, kamu itu cantik kenapa tidak mencari yang sebaya denganmu?” emosiku semakin memuncak saat mengingat bi Mar istri dari pak Isa, “saya tidak menyangka ternyata anda yang sangat saya hormati ternyata tidak lebih dari binatang, betapa teganya anda menghianati istri anda sendiri,” beberapa kali aku menggelengkan kepalahku, sambil menunjuk ke arahnya,



“Maaf Bu ini semua salah saya, jangan salahkan Ani” kata pak Mar yang membela Ani,
“mulai sekarang kalian saya PECAT, dan jangan perna menyentuh ataupun menginjak rumah ini, KELUAR KALIAN SEMUA!!” bentakku

Mendengar perkataanku Ani terlihat pucat tidak menyangkah kalau kelakuan bisa membuatnya kehilangan pekerjaan, sedangkan pak Isa terlihat tenang-tenang saja malahan pak Isa tanpak terseyum sinis.

“He..he… Ibu yakin dengan keputusan Ibu,” pak Isa tertawa mendengar perkataanku, perlahan pak Isa mendekatiku, “jangan perna main-main dengan saya Bu,” ancamnya dengan sangat sigap pak Isa menangkap kedua tanganku,
“apa-apaan ini lepaskan saya, atau saya akan berteriak,” aku mencoba mengancam balik mereka yang sedang mencoba mengikat kedua tanganku,
“teriak saja Bu, tidak akan ada orang yang mendengar,” timpal Ani sambil membantu pak Isa mengikat kedua tanganku.

Apa yang di katakan Ani ada benarnya juga, tetapi walaupun begitu aku tidak mau menyerah begitu saja dengan susah paya aku berusaha melepaskan diri tapi sayangnya tenagaku kalah besar dari mereka berdua, tanpa bisa berbuat apa-apa aku hanya dapat mengikuti mereka saat membawaku ke dalam kamar pak Isa. Sesampai di kamar aku di tidurkan di atas kasur yang tipis, sedangkan Ani mengambil sebuah Hp dan ternyata Hp itu di gunakan untuk merekamku, sehingga kehawatiranku semakin menjadi-jadi.
“kalian biadab, tidak tau terimakasih ****** kalian!” air mataku tidak dapat kubendung lagi saat jari-jemari pak Isa mulai merabahi pahaku yang putih.

“Ja-jangan, mau apa kalian lepaskan saya ku mohon jangan ganggu saya,” kataku di sela-sela isak tangis,
“siapa suruh ikut campur urusan saya, he…he… maaf bu ternyata hari ini adalah hari keberuntungan saya, dan hari yang sil bagi Ibu,” semakin lama aku merasa tangannya semakin dalam memasuki dasterku.

“Tidak di sangkah impian saya akhirnya terkabul juga,”” sambungnya sambil meremasi paha bagian dalamku,
“makanya Bu jangan suka ikut campur urusan orang,” kini giliran Ani yang menceramahiku,
“ya, saya ngaku salah tolong lepasin saya,” kini aku hanya dapat memohon agar mereka sedikit iba melihatku, tetapi sayangnya apa yang kuharapkan tidak terjadi, pak Isa tanpa semakin buas memainkan diriku.

Aku hanya dapat melihat pasrah saat dasterku terlepas dari tubuhku, kedua payudaraku yang memang sudah tidak tertutupi apa-apa lagi dapat dia nikmati, jari-jarinya yang kasar mulai memainkan selangkanganku,
“sslluupss…sslluuppss… hhmm…. ayo Bu puaskan saya?” pinta pak Isa, sambil mengulum payudaraku beberapa kali lidahnya menyapu putting susuku yang mulai mengeras.

“Kok memiawnya basah bu, he…he…” memang harus diakui, tubuhku tidak dapat membohonginya walaupun bibirku berkata tidak,
“wa…wa… Ibukan sudah punya suami ko’ masih juga menggoda laki orang lain, ga malu ya Bu,” Ani melotottiku seolah-olah ingin membalas perkataanku tadi, “dasar wanita munafik, sekarang Ibu tau kan kenapa saya menyukai pak Isa,”bentak Ani kepadaku, sehingga membuat hatiku terasa amat sakit mendengarnya.

“Aahhkk… pak, hhmm…. pak sudah jangan di terusin…” kataku dengan kaki yang tidak dapat diam saat jarinya menyelusup kedalam vaginaku yang sudah banjir, perlahan kurasakan jari telunjuknya menyelusuri belahan vaginaku,
“oo… enak ya? he…he…” pa Isa tertawa melihatku yang sudah semakin terangsang, leherku terasa basah saat lidah pak Isa menjilati leherku yang jenjang,
Dengan sangat kasarnya pak Isa menarik celana dalamku, sehingga vaginaku yang tidak di tumbuhi rambut sehelaipun terlihat olehnya, aku memang sangat rajin mencukur rambut vaginaku agar terlihat lebih bersi dan seksi.



Ani berjongkok di sela-sela kakiku, kamera Hp di arahkan persis di depan vaginaku yang kini sudah tidak ditutupi oleh sehelai kain, tanpa memikirkan perasaanku pak Isa membuka bibir vaginaku sehingga bagian dalam vaginaku dapat di rekam jelas oleh Ani, beberapa kali jari telunjuk pak Isa menggesek clitorisku.

“Ohk pak plisss.. jangan…? saya malu…” aku merasa sangat malu sekali di perlakukan seperti itu, baru kali ini aku bertelanjang di depan orang lain bukan suamiku sendiri,
“Ha…ha… malu kenapa Bu? ****** aja tidak malu ga pake baju masa ibu malu si…” katanya yang semakin merendahkan derajatku, setelah puas mempertontonkan vaginaku di depan kamera, pak Isa bertukar posisi dengan Ani untuk memegangi kakiku sedangkan pak Isa berjongkok tepat di bawa vaginaku.

Dengan sangat lembut pak Isa menciumi pahaku kiri dan kanan secara bergantian, semakin lama jilatannya semakin ke atas menyentuh pinggiran vaginaku,
“aahkk… sudah pak, rasanya sangat geli hhmm…” aku berusaha sekuat tenaga mengatupkan kedua kakiku tetapi usahaku sia-sia saja, dengan sangat rakus pak Isa menjilati vaginaku yang berwarna pink, sedangkan Ani tanpa puas melihat ke adaanku yang tak berdaya,
“nikmatin aja Bu, he..he.. saya dulu sama seperti ibu selalu menolak tapi ujung-ujungnya malah ketagihan” kata Ani tanpa melepaskan pegangannya terhadap kakiku,
Semakin lama aku semakin tidak tahan, tiba-tiba aku merasa tubuhku seperti di aliri listrik dengan tegangan yang tinggi, kalau seandainya Ani tidak memegang kakiku dengan sangat erat mungkin saat ini wajah pak Isa sudah menerima tendanganku, mataku terbelalak saat orgasme melandah tubuhku dengan sangat hebat, cairan vaginaku meleleh keluar dari dalam vaginaku, sehingga tubuhku terasa lemas.

“Ha…ha… bagaimana Bu, mau yang lebih enak….” pak Isa tertawa puas, aku hanya dapat menggelengkan kepalaku karena aku sudah tidak mampu lagi untuk mengeluarkan suara dari mulutku, perlahan pak Isa berdiri sambil memposisikan penisnya tepat di depan vaginaku,
“aahkk… sakit…” aku memikik saat kepala penisnya menerobos liang vaginaku, “uuhk… hhmm… pelan-pelan pak…” pintaku sambil menarik napas menahan rasa sakit yang amat sangat di vaginaku karena ukuran penis pak Isa jauh lebih besar dari penis suamiku,
“tahan Bu, bentar lagi juga enak ko’ “ kata Ani yang kini melepaskan ikatan di tanganku, setelah ikatanku terlepas Ani kembali merekam adegan panas yang kulakukan.

Dengan sangat cepat pak Isa menyodok vaginaku sehingga terdengar suara “plokkss….ploskkss…” saat penisnya mentok ke dalam vaginaku yang mungil,
“aahhkk… aahhkk… aaahh… oooo…”semakin cepat sodokannya suaraku semakin lantang terdengar,
“oh yeeaa… enak Bu, hhmm… ternyata memiaw Ibu masih sempit sekali walaupun sudah perna menikah,” katanya memujiku, tetapi mendengar pujiannya aku tidak merasa bangga melainkan aku meresa jijik terhadap diriku sendiri,
Aku merasa vaginaku seperti di masuki benda yang sangat besar yang mencoba mengorek isi dalam vaginaku, rasanya memang sangat sakit sekali tetapi di sisi lain aku merasa sangat menikamati perkosaan rehadap diriku, selama ini aku belum perna merasakan hal seperti ini dari suamiku sendiri.



“Ayo sayang, bilang kalau tongkol saya enak…” dengan sangat kasar pak Isa meremasi kedua payudaraku,
“ti-tidak…. ahk… hhmm…” aku di buat merem melek olehnya,
“ha..ha.. kamu mau jujur atau tidak, kalau tidak hhmm… saya akan adukan semua ini kepada suamimu, ha…ha…” katanya mengancamku dengan tawa yang sangat menjijikan,
“ja-jangan pak,” aku memohon ke padanya, karena takut dengan ancamannya akhirnya aku menyerah juga “iya, aahhkk… aku suka…” kataku dengan suara yang hampir tidak terdengar,
“APA… SAYA TIDAAK MENDENGAR?” pak Isa berteriak dengan sangat kencang sehingga gendang telingaku terasa mau pecah mendengar teriakannya,
“IYA PAK, ENAK SEKALI SAYA SUKA SAMA tongkol BAPAK….aahhk…uuhhkk!!” dengan sekuat tenaga aku berusaha tegar dan berharap semuanya cepat berlalu,
Setelah berapa menit kemudian tubuhku kembali merasa tersengat oleh aliran listrik saat aku kembali mengalami orgasme yang ke dua kalinya.

Dengan sangat kasarnya pak Isa menarik tubuhku sehingga aku berposisi menungging, pantatku yang bulat dan padat menghadap dirinya,
“hhmm… indah sekali pantatmu sayang” katanya sambil meremasi bongkahan pantatku,
“pak, saya mohon cepat lakukan,”
“ha..ha.. kenapa Bu, sudah ga tahan” berkali-kali pantatku menerima pukulan darinya, sebenarnya aku tidak menyangka dengan kata-kataku tadi bisa membuatku semakin renda di mata mereka, sebenarnya aku hanya bermaksud agar semua permainan ini segera berakhir tapi sayangnya pak Isa tidak menginginkan itu.

“Tenang Bu, santai saja dulu?”
Pak Isa sangat pintar memainkan tubuhku, dengan sangat lembut jari kasarnya menyelusuri belahan pantatku dari atas hingga ke bawah belahan vagianaku, gerakan itu di lakukan berkali-kali sehingga pantatku semakin terlihat membusung ke belakang,
“ohhkk… pak, hhhmm….” ku pejamkan mataku saat jarinya mulai menerobos lubang anusku, dengan gerakan yang sangat lembut jarinya keluar masuk dari dalam anusku, “ahhkk….ooo… ssstt…uuuuu… pak” ternyata rintihanku membuat pak Isa semakin mempercepat gerakan jarinya,
pak Isa dengan rakusnya kembali menjilati vaginaku dari belakang sedangkan jari-jarinya masih aktif mengocok anusku. Pada saat aku sangat terangsang tiba-tiba kami mendengar suara ketukan yang kuyakini itu adalah pak Rojak yang baru pulang dari mengantar Aldi,
“Pak Rojak tolongin saya…” kataku berharap ia bisa membantuku untuk lepas dari pelecehan yang ku alami, dengan santainya Ani membukakan pintu tanpa rasa takut kalau pak Rojak mengadukan kejadian ini ke pada suamiku, pak Rojak tanpak kaget saat melihat keadaanku yang sedang di gagahi oleh pak Isa.

"Pak, tolong ku mohon,” kataku memelas,
“Wa…wa…. apa-apaan ini, “ beberapa kali pak Rojak menggelengkan kepalahnya dengan mata yang tak henti-hentinya memandangi tubuh mulusku,
“Udah pak, jangan sok mau jadi pahlawan kalau bapak mau embat aja, dia sudah menjadi budaknya saya,” pak Isa mulai membujuk pak Rojak dan aku hanya bisa berharap pak Rojak tidak memperdulikan tawaran pak Isa.

“Kenapa bengong? sini ikutan!” ajaknya lagi
“jangan pak saya mohon tolongin saya,” aku mengiba ke pada pak Rojak, tetapi pak Isa tidak mau kalah kedua jarinya membuka bibir vaginaku,
“bapak liat ni, memiawnya sudah basa banget… wanita ini munafik” pak Rojak terdiam seperti ada yang sedang di piirkannya.

“Memiawnya masih sempit lo, apa lagi anusnya kayaknya masih perawan,” bujuk pak Isa berharap pak Rojak mau bergabung dengannya untuk menikmati tubuhku,
Akhirnya pak Rojak tidak tahan melihat vaginaku yang becek terpampang di depannya.



“Hhmm… oke lah tapi boolnya buat saya ya, ” tubuhku semakin terasa lemas, kini aku sudah tidak tau harus meminta tolong ke pada siapa lagi, perlahan pak Rojak mendekatiku,
“sekarang Ibu dudukin tongkol saya, cepat…” perintah pa Isa sambil tidur telentang dengan penis yang mengancung ke atas, dengan sangat pelan aku menuduki penis pak Isa,
“eennnggkk…. “ aku menggigit bibir bawahku saat kepala penis pak Isa kembali menembus vaginaku, perlahan penis itu amblas ke dalam vaginaku, dengan sangat erat pak Isa memeluk pinggangku agar tidak dapat bergerak,
Setelah melepas semua pakaian yang ada di tubuhnya, pak Rojak mendekatiku dengan penis berada di depan anusku beberapa kali pak rojak menamparkan penisnya ke pantatku,
“pak sakit… aahhkk… aahkk… ja-jangan pak saya belum pernah” aku berusaha melepaskan diri saat pak Rojak mulai berusaha memasuki anusku, sempat beberapa kali ia gagal meembus anusku yang memang masih perawan,
“ha…ha… ayo dong Pak, masak kalah sama cewek si…” kata pak Isa mmemanas-manasi pak Rojak agar segera membobol anusku, pak rojak yang mendengar perkataan pak Isa menjadi lebih beringas dari sebelumnya.

“AAAAAA….” aku berteriak sekencang-kencangnya saat penis pa Rojak berhasil menerobos anusku, tanpa memberikan aku nafas ia menekan penisnya semakin dalam, “aahkk…. oohhkk… pak, hhmm…” aku merintih ke sakitan saat pak Rojak mulai memaju mundurkan penisnya di dalam anusku,
“gi mana pak? Enak kan?” tanya pak Isa yang kini ikutan memaju mundurkan penisnya di dalam vaginaku,
“eehhkknngg… mantab pak, enak banget he….he… hhmm….” semakin lama kedua pria tersebut semakin mempercepat tempo permainan kami,
Sudah beberapa menit berlalu kedua orang pria ini belum juga menunjukan kalau mereka ingin ejakulasi, sedangkan diriku sedah beberapa kali mengalami orgasme yang hebat sehingga tubuhku terasa terguncang oleh orgasmeku sendiri. Setelah beberapa menit aku mengalami orgasme tiba-tiba pak Isa menunjukan bahwa dia juga ingin mencapai klimaks. Dengan sekuat tenaga pak Isa semakin menenggelamkan penisnya ke dalam vaginaku dalam hitungan beberapa detik kurasakan cairan hangat membasahi rahimku.

“Aahkk… enak…. hhmm…” gumamnya saat menyemburkan sperma terakhirnya, setelah puas menodaiku pak Isa melepas penisnya di dalam vaginaku begitu juga dengan pak Rojak yang melepaskan penisnya di dalam anusku,
“buka mulutmu cepetan,” perintah pak Rojak sambil menarik wajahku agar menghadap ke arah penisnya yang terlihat berdeyut-deyut, aku sangat kaget sekali saat pak Rojak memuntahkan spermanya ke arah wajahku, sehingga wajahku ternodai oleh sperma pak Rojak,
Kini aku benar-benar sudah tidak memiliki tenaga sedikitpun, untuk mengangkat tubuhku saja terasa sangat berat sekali, sedangkan mereka tanpa puas memandangku yang sedang berpose mengangkang di depan mereka karena kedua kakiku kembali dipegangi Ani, sperma yang tadi di muntahkan pak Isa terasa mengalir keluar dari dalam vaginaku.



****************

Aku duduk di atas sofa sambil melihat anak angkatku Aldi yang sedang di temani suamiku belajar, wajah mereka terlihat sangat cerah sekali bertanda bahwa mereka sangat bahagia, entah kenapa tiba-tiba di pikiranku terlintas kembali apa yang terjadi tadi pagi yang menimpa diriku, semakin aku berusaha melupakannya rasanya ingatan itu semakin menghantuiku, aku tidak bisa membayangkan kalau sampai suamiku mengetahui kalau aku di perkosa oleh ketiga pembantuku sendiri.

“Hhmm… gi mana Aldi sudah negerti belom” kataku sambil mengucek rambutnya yang sedang sibuk menghitung soal yang di berikan suamiku, “ya sudah kalau begitu mama bikinin minuman dulu ya, buat kalian,” kataku yang di sambut dengan teriakan mereka berdua,
Baru satu langkah aku keluar dari kamar tiba-tiba pergelangan tanganku terasa sakit saat pak Rojak menarik tanganku,
“bapak apaan sih!?” bentakku dengan suara yang sangat pelan,
“ssstt… jangan berisik…” kata pak Rojak dengan jari telunjuk di bibirnya, “nanti suami dan anak mu dengar, hhmm… bapak cuman mau ini Bu,” katanya lagi sambil mencubit payudaraku, dengan sigap aku mundur ke belakang,
“jangan main-main pak,” beberapa kali aku memandang pintu kamarku yang tidak tertutup rapat, tetapi pak Rojak tidak kehabisan akal dia balik mengancamku dengan mengatakan akan membongkar semua rahasiaku ke pada suamiku, sehingga nyaliku menjadi ciut.

“Oke, hhmm… kalau begitu bapak ikut saya” kataku dengan suara yang bergetar, karena sudah tidak tahu lagi harus melakukan apa, dia terseyum puas melihatku tak berdaya dengan permintaanya,
“maaf Bu, saya inginnya di sini bukan di tempat lain,” katanya dengan suara yang cukup jelas, setelah berkata seperti itu pak Rojak langsung memelukku dengan erat sehingga aku sulit bernafas, “hhmm… bauh tubuh ibu benar-benar menggoda saya,” perlahanku rasakan lidahnya menjulur ke leherku
“pak ku mohon, jangan di sini” pintaku ke padanya.

Pak Rojak yang mengerti kekhawatiranku langsung membalik tubuhku menghadap daun pintu kamarku yang sedikit terbuka,
“Ibu bisa bayangkan kalau sampai orang yang sedang di dalam kamar Ibu mengetahui apa yang sedang Ibu lakukan,” ancamnya sambil menarik rambutku sehingga aku harus menutup mulutku dengan telapak tanganku agar suara terikanku tidak terdengar oleh suami dan anakku,
“Pak ku mohon jangan di sini,” aku hanya bisa menurut saja saat pak Rojak menyuruhku untuk menungging dengan tangan yang menyentuh lantai, sedangkan wajahku menghadap ke celah pintu kamarku yang terbuka,
“tahan ya Bu,” katanya sambil menyingkap dasterku, sehingga celana dalamku yang berwarna hitam terpampang di depan matanya, dengan sangat kasar pak Rojak meremas kedua buah pantatku yang padat sehingga aku tak tahan untuk tidak mendesah,
“aahkk.. pak hhmm.. ja-jangan di sini pak,” pak Rojak diam saja tidak mendengar kata-kataku melainkan pak Rojak semakin membuatku terangsang dengan mengelus belahan vaginaku dari belakang.

“Kalau kamu tidak mau ketahuan jangan bicara,” bentak pak Rojak sambil memukul pantatku
“ta-tapi pak, oohhkk… aku ga kuat,” kataku dengan suara yang sangat pelan, “ku mohon pak mengertilah,”
Pak Rojak seolah-olah tidak mau tahu, kini dengan rakusnya pak Rojak menjilati vaginaku yang masih tertutup celana dalamku, sehingga aku merasa celana dalamku tampak semakin basah oleh air liurnya. Setelah puas menciumi vaginaku pak Rojak memintaku untuk membuka celana dalamku sendiri masih dengan posisi menungging. Sangat sulit bagiku untuk melepaskan celana dalamku dengan posisi menungging belum lagi aku harus bekonsentrasi agar suaraku tidak keluar dengan keras walaupun pada akhirnya aku berhasil menurunkan celana dalamku sampai ke lutut.

“Hhuuu… mantab….” katanya sambil merabahi vaginaku dari belakang, “kamu mau tahukan gimana rasanya ngent*t di depan suamimu sendiri,” katanya lagi sambil menunjuk ke arah suamiku yang sedang mengajari anaku Aldi,
“pak, ja-jangan…” aku sangat takut sekali kalau suamiku melihat ke arahku, tiba-tiba aku di kejutkan dengan jari telunjuk pak Rojak yang langsung memasuki vaginaku sehingga aku terpekik cukup keras,
“sayang… ada apa?” kata suamiku dari dalam, saat mendengar suaraku.
“aahkk… tidak pa, cuman hhmm.. tadi ada tikus lewat,” jawabku asal-asalan agar suamiku tidak curiga ke padaku, tetapi untungnya suamiku tidak melihat ke arahku, dalam ke adaan terjepit seperti ini pak Rojak masih asyik mempermainkan vaginaku dari belakang,
“ada tikus??” katanya lagi seolah-olah tidak percaya, “apa perlu papa yang usir,” mendengar tawarannya nafasku teras berhenti tetapi untungnya aku masih banyak akal,
“aahhgg… ga usah hhmm.. pa…” kataku terputus-putus menahan rasa nikmat yang di berikan pak Rojak kepadaku, untungnya suamiku tidak curiga dengan suaraku.



“Asyikan Bu, ngobrol dengan suami sambil di mainin memiawnya,” aku memandangnya dengan wajah yang memerah karena nafsuku sudah di puncak, “ko’ diam cepat ajak suami Ibu ngobrol,” mendengar perkataanya aku langsung melotot ke arahnya, “Ibu mau kalau suami Ibu tau apa yang sekarang Ibu lakuin,” mendengar ancamannya aku kembali terdiam,
Dengan sangat terpaksa aku kembali mengajak suamiku mengobrol, walaupun di dalam hati aku merasa was-was takut kalau suamiku menyadari suaraku yang berubah menjadi desahan,
“paaa… ma-mau minum apa?” tanyaku yang kini sedang diperkosa oleh pak Rojak, tanpa kusadari pak Rojak sudah memposisikan penisnya di depan ibir vaginaku sehingga beberapa kali aku terpanjat saat pak rojak menghantamkan penisnya dengan sangat keras ke dalam vaginaku,
“terserah mama saja… papa sama Aldi ikut aja,”
“iya ma, apa aja asalkan enak,” sambung Aldi.

Waktu demi waktu telah berlalu sehingga sampai akhirnya sikapku berubah menjadi sedikit liar dan mulai menyukai cara pak Rojak memperkosaku walaupun pada awalnya hatiku terasa miris sekali di perlakukan seperti ini,
“aahk…. pak hhmm.. enak,” aku melenggu panjang saat orgasme melandahku, kini perkosaan yang ku alami berganti dengan perselingkuhanku dengan pembantuku,
“ohhk… memiaw istri majikan ternyata enak sekali, ahhkk…” katanya yang terus-terusan menggoyang penisnya di dalam vaginaku,
“pak… aahhkk… eehkk… aku, hhmm… ingin keluarrr, uuhhkk…” kali ini suaraku terdengar sangat manja.

Beberapa menit kemudian kami mengerang bersamaan saat kenikmatan melanda kami berdua, setelah merasa puas aku dan pak Rojak kembali merapikan pakaian kami masing-masing, sebelum pak Rojak pergi meninggalkanku sempat terlihat seyumannya yang tersungging di bibirnya. Setelah membuatkan minuman aku kembali ke kamarku menemui anak dan suamiku, mereka terlihat tanpak senang sekali melihatku hadir dengan membawa minuman dan makanan kecil,
“ini di minum dulu, nanti baru di lanjutin lagi,” kataku sambil meletakan cangkir dan piring di atas meja kecil yang di gunakan Aldi untuk belajar,
“makasi mama…” kata Aldi yang langsung saja menyambar minuman yang baru ku bikin, entah kenapa setiap kali melihat Aldi hatiku terasa menjadi damai, dan semua masalah seperti terlupakan.

Aku merasa sedikit aneh, saat suamiku memandangku dengan tatapan mencurigakan sehingga aku memberanikan diri untuk bertanya ke padanya,
“ada pa, ko memandang mama seperti itu” kataku sambil mengupas jeruk untuk Aldi yang sedang menulis,
suamiku mendekatkan mulutnya ke telingaku, “hhmm.. sayang ko’ kamu bau hhmm… gitulah…” mendengar pertanyaannya jantungku terasa berhenti,
“bau, bau apa pa?” tanyaku untuk memastikan apa maksud dari pertanyaan suamiku,
“kamu tadi ko’ lama ma,” kami terdiam beberapa saat, “mama abis dari kamar mandi ya, hhmmm… papa jadi curiga ni,” katanya sambil tertawa memandangku, mendengar perkataanya aku menjadi sedikit lega,
“Iya ni pa, abis kangen si…” kataku manja sambil mencubit penis suamiku,
Setelah yakin Aldi tertidur pulas, suamiku mengjakku untuk melayaninya semalaman suntuk. Tubuhku memang terasa lelah karena seharian harus mengalami orgasme, tetapi di sisi lain aku sangat senang karena suamiku tidak mencurigai aku karena bau tubuhku seperti bau orang yang habis bercinta.

- Poker Online
- Domino Online


Bonus deposit 100% untuk Member baru dengan maksimal bonus Rp.30.000, ( Claim hanya 1x ) hanya dengan syarat yang sangat mudah yaitu TurnOver sebesar Rp.100.000 langsung bisa melakukan Withdraw
Buruan daftarkan diri Anda >> Daftar <<

Cerita Seks: Fantasi Liar dengan Sopirku

Aku bosan dengan permainan seks sebayaku hingga aku memberanikan diri untuk mencoba fantasi liar bercinta dengan sopirku yang umurnya jauh dari ku tapi kenikmatan nafsu liar yang berbeda aku dapatkan darinya, Fantasi Liar dengan Sopirku.

Agen Domino Online Indonesia Terpercaya - Kisah ini terjadi ketika aku masih SMU, ketika umurku masih 18 tahun, waktu itu rambutku masih sepanjang sedada dan hitam (sekarang sebahu lebih dan sedikit merah).


Di SMU aku termasuk sebagai anak yang menjadi incaran para cowok. Tubuhku cukup proporsional untuk seusiaku dengan buah dada yang sedang tapi kencang serta pinggul yang membentuk, pinggang dan perutku pun ukurannya pas karena rajin olahraga, ditambah lagi kulitku yang putih mulus ini. Aku pertama mengenal seks dari pacarku yang tak lama kemudian putus, pengalaman pertama itu membuatku haus seks dan selalu ingin mencoba pengalaman yang lebih heboh. Beberapa kali aku berpacaran singkat yang selalu berujung di ranjang. Aku sangat jenuh dengan kehidupan seksku, aku menginginkan seseorang yang bisa membuatku menjerit-jerit dan tak berkutik kehabisan tenaga.



Ketika itu aku belum diijinkan untuk membawa mobil sendiri, jadi untuk keperluan itu orang tuaku mempekerjakaan Bang Tohir sebagai sopir pribadi keluarga kami merangkap pembantu. Dia berusia sekitar 30-an dan mempunyai badan yang tinggi besar serta berisi, kulitnya kehitam-hitaman karena sering bekerja di bawah terik matahari (dia dulu bekerja sebagai sopir truk di pelabuhan). Aku sering memergokinya sedang mengamati bentuk tubuhku, memang sih aku sering memakai baju yang minim di rumah karena panasnya iklim di kotaku. Waktu mengantar jemputku juga dia sering mencuri-curi pandang melihat ke pahaku dengan rok seragam abu-abu yang mini. Begitu juga aku, aku sering membayangkan bagaimana bila aku disenggamai olehnya, seperti apa rasanya bila batangnya yang pasti kekar seperti tubuhnya itu mengaduk-aduk kewanitaanku. Tapi waktu itu aku belum seberani sekarang, aku masih ragu-ragu memikirkan perbedaan status diantara kami.

Obsesiku yang menggebu-gebu untuk merasakan ML dengannya akhirnya benar-benar terwujud dengan rencana yang kusiapkan dengan matang. Hari itu aku baru bubaran pukul 3 karena ada ekstra kurikuler, aku menuju ke tempat parkir dimana Bang Tohir sudah menunggu. Aku berpura-pura tidak enak badan dan menyuruhnya cepat-cepat pulang. Di mobil, sandaran kursi kuturunkan agar bisa berbaring, tubuhku kubaringkan sambil memejamkan mata. Begitu juga kusuruh dia agar tidak menyalakan AC dengan alasan badanku tambah tidak enak, sebagai gantinya aku membuka dua kancing atasku sehingga bra kuningku sedikit tersembul dan itu cukup menarik perhatiannya.

"Non gak apa-apa kan? Sabar ya, bentar lagi sampai kok" hiburnya.

Waktu itu dirumah sedang tidak ada siapa-siapa, kedua orang tuaku seperti biasa pulang malam, jadi hanya ada kami berdua. Setelah memasukkan mobil dan mengunci pagar aku memintanya untuk memapahku ke kamarku di lantai dua. Di kamar, dibaringkannya tubuhku di ranjang. Waktu dia mau keluar aku mencegahnya dan menyuruhnya memijat kepalaku. Dia tampak tegang dan berkali-kali menelan ludah melihat posisi tidurku itu dan dadaku yang putih agak menyembul karena kancing atasnya sudah terbuka, apalagi waktu kutekuk kaki kananku sehingga kontan paha mulus dan CD-ku tersingkap. Walaupun memijat kepalaku, namun matanya terus terarah pada pahaku yang tersingkap. Karena terus-terusan disuguhi pemandangan seperti itu ditambah lagi dengan geliat tubuhku, akhirnya dia tidak tahan lagi memegang pahaku. Tangannya yang kasar itu mengelusi pahaku dan merayap makin dalam hingga menggosok kemaluanku dari luar celana dalamku.

"Sshh.. Bang" desahku dengan agak gemetar ketika jarinya menekan bagian tengah kemaluanku yang masih terbungkus celana dalam.

"Tenang Non.. saya sudah dari dulu kesengsem sama Non, apalagi kalau ngeliat Non pake baju olahraga, duh tambah gak kuat Abang ngeliatnya juga" katanya merayu sambil terus mengelusi bagian pangkal pahaku dengan jarinya.

Tohir mulai menjilati pahaku yang putih mulus, kepalanya masuk ke dalam rok abu-abuku, jilatannya perlahan-lahan mulai menjalar menuju ke tengah. Aku hanya dapat mencengkram sprei dan kepala Tohir yang terselubung rokku saat kurasakan lidahnya yang tebal dan kasar itu menyusup ke pinggir celana dalamku lalu menyentuh bibir vaginaku. Bukan hanya bibir vaginaku yang dijilatinya, tapi lidahnya juga masuk ke liang vaginaku, rasanya wuiihh..gak karuan, geli-geli enak seperti mau pipis. Tangannya yang terus mengelus paha dan pantatku mempercepat naiknya libidoku, apalagi sejak sejak beberapa hari terakhir ini aku belum melakukannya lagi.

Sesaat kemudian, Tohir menarik kepalanya keluar dari rokku, bersamaan dengan itu pula celana dalamku ikut ditarik lepas olehnya. Matanya seperti mau copot melihat kewanitaanku yang sudah tidak tertutup apa-apa lagi dari balik rokku yang tersingkap. Dia dekap tubuhku dari belakang dalam posisi berbaring menyamping. Dengan lembut dia membelai permukaannya yang ditumbuhi bulu-bulu halus itu. Sementara tangan yang satunya mulai naik ke payudaraku, darahku makin bergolak ketika telapak tangannya yang kasar itu menyusup ke balik bra-ku kemudian meremas daging kenyal di baliknya.

"Non, teteknya bagus amat.. sama bagusnya kaya memeknya, Non marah ga saya giniin?" tanyanya dekat telingaku sehingga deru nafasnya serasa menggelitik.

Aku hanya menggelengkan kepalaku dan meresapi dalam-dalam elusan-elusan pada daerah sensitifku. Tohir yang merasa mendapat restu dariku menjadi semakin buas, jari-jarinya kini bukan hanya mengelus kemaluanku tapi juga mulai mengorek-ngoreknya, cup bra-ku yang sebelah kanan diturunkannya sehingga dia dapat melihat jelas payudaraku dengan putingnya yang mungil.

Aku merasakan benda keras di balik celananya yang digesek-gesek pada pantatku. Tohir kelihatan sangat bernafsu melihat payudaraku yang montok itu, tangannya meremas-remas dan terkadang memilin-milin putingnya. Remasannya semakin kasar dan mulai meraih yang kiri setelah dia pelorotkan cup-nya. Ketika dia menciumi leher jenjangku terasa olehku nafasnya juga sudah memburu, bulu kudukku merinding waktu lidahnya menyapu kulit leherku disertai cupangan. Aku hanya bisa meresponnya dengan mendesah dan merintih, bahkan menjerit pendek waktu remasannya pada dadaku mengencang atau jarinya mengebor kemaluanku lebih dalam. Cupanganya bergerak naik menuju mulutku meninggalkan jejak berupa air liur dan bekas gigitan di permukaan kulit yang dilalui. Bibirnya akhirnya bertemu dengan bibirku menyumbat eranganku, dia menciumiku dengan gemas.

Pada awalnya aku menghindari dicium olehnya karena Tohir perokok jadi bau nafasnya tidak sedap, namun dia bergerak lebih cepat dan berhasil melumat bibirku. Lama-lama mulutku mulai terbuka membiarkan lidahnya masuk, dia menyapu langit-langit mulutku dan menggelikitik lidahku dengan lidahnya sehingga lidahku pun turut beradu dengannya. Kami larut dalam birahi sehingga bau mulutnya itu seolah-olah hilang, malahan kini aku lebih berani memainkan lidahku di dalam mulutnya. Setelah puas berrciuman, Tohir melepaskan dekapannya dan melepas ikat pinggang usangnya, lalu membuka celana berikut kolornya. Maka menyembullah kemaluannya yang sudah menegang daritadi. Aku melihat takjub pada benda itu yang begitu besar dan berurat, warnanya hitam pula. Jauh lebih menggairahkan dibanding milik teman-teman SMU-ku yang pernah ML denganku. Dengan tetap memakai kaos berkerahnya, dia berlutut di samping kepalaku dan memintaku mengelusi senjatanya itu. Akupun pelan-pelan meraih benda itu, ya ampun tanganku yang mungil tak muat menggenggamnya, sungguh fantastis ukurannya.

"Ayo Non, emutin kontol saya ini dong, pasti yahud rasanya kalo diemut sama Non" katanya.



Kubimbing penis dalam genggamanku ke mulutku yang mungil dan merah, uuhh.. susah sekali memasukkannya karena ukurannya. Sekilas tercium bau keringat dari penisnya sehingga aku harus menahan nafas juga terasa asin waktu lidahku menyentuh kepalanya, namun aku terus memasukkan lebih dalam ke mulutku lalu mulai memaju-mundurkan kepalaku. Selain menyepong tanganku turut aktif mengocok ataupun memijati buah pelirnya.

"Uaahh.. uueennakk banget, Non udah pengalaman yah" ceracaunya menikmati seponganku, sementara tangannya yang bercokol di payudaraku sedang asyik memelintir dan memencet putingku.

Setelah lewat 15 menitan dia melepas penisnya dari mulutku, sepertinya dia tidak mau cepat-cepat orgasme sebelum permainan yang lebih dalam. Akupun merasa lebih lega karena mulutku sudah pegal dan dapat kembali menghirup udara segar. Dia berpindah posisi di antara kedua belah pahaku dengan penis terarah ke vaginaku. Bibir vaginaku disibakkannya sehingga mengganga lebar siap dimasuki dan tangan yang satunya membimbing penisnya menuju sasaran.

"Tahan yah Non, mungkin bakal sakit sedikit, tapi kesananya pasti ueenak tenan" katanya.

Penisnya yang kekar itu menancap perlahan-lahan di dalam vaginaku. Aku memejamkan mata, meringis, dan merintih menahan rasa perih akibat gesekan benda itu pada milikku yang masih sempit, sampai mataku berair. Penisnya susah sekali menerobos vaginaku yang baru pertama kalinya dimasuki yang sebesar itu (milik teman-temanku tidak seperkasa yang satu ini) walaupun sudah dilumasi oleh lendirku.



Tohir memaksanya perlahan-lahan untuk memasukinya. Baru kepalanya saja yang masuk aku sudah kesakitan setengah mati dan merintih seperti mau disembelih. Ternyata si Tohir lihai juga, dia memasukkan penisnya sedikit demi sedikit kalau terhambat ditariknya lalu dimasukkan lagi. Kini dia sudah berhasil memasukkan setengah bagiannya dan mulai memompanya walaupun belum masuk semua. Rintihanku mulai berubah jadi desahan nikmat. Penisnya menggesek dinding-dinding vaginaku, semakin cepat dan semakin dalam, saking keenakannya dia tak sadar penisnya ditekan hingga masuk semua. Ini membuatku merasa sakit bukan main dan aku menyuruhnya berhenti sebentar, namun Tohir yang sudah kalap ini tidak mendengarkanku, malahan dia menggerakkan pinggulnya lebih cepat. Aku dibuatnya serasa terbang ke awang-awang, rasa perih dan nikmat bercampur baur dalam desahan dan gelinjang tubuh kami.

"Oohh.. Non Citra, sayang.. sempit banget.. memekmu.. enaknya!" ceracaunya di tengah aktivitasnya.

Dengan tetap menggenjot, dia melepaskan kaosnya dan melemparnya. Sungguh tubuhnya seperti yang kubayangkan, begitu berisi dan jantan, otot-ototnya membentuk dengan indah, juga otot perutnya yang seperti kotak-kotak. Dari posisi berlutut, dia mencondongkan tubuhnya ke depan dan menindihku, aku merasa hangat dan nyaman di pelukannya, bau badannya yang khas laki-laki meningkatkan birahiku. Kembali dia melancarkan pompaannya terhadapku, kali ini ditambah lagi dengan cupangan pada leher dan pundakku sambil meremas payudaraku. Genjotannya semakin kuat dan bertenaga, terkadang diselingi dengan gerakan memutar yang membuat vaginaku terasa diobok-obok.

"Ahh.. aahh.. yeahh, terus entot gua Bang" desahku dengan mempererat pelukanku.

Aku mencapai orgasme dalam 20 menit dengan posisi seperti ini, aku melepaskan perasaan itu dengan melolong panjang, tubuhku mengejang dengan dahsyat, kukuku sampai menggores punggungnya, cairan kenikmatanku mengalir deras seperti mata air. Setelah gelombang birahi mulai mereda dia mengelus rambut panjangku seraya berkata, "Non cantik banget waktu keluar tadi, tapi Non pasti lebih cantik lagi kalau telanjang, saya bukain bajunya yah Non, udah basah gini".

Aku cuma bisa mengangguk dengan nafas tersenggal-senggal tanda setuju. Memang badanku sudah basah berkeringat sampai baju seragamku seperti kehujanan, apalagi AC-nya tidak kunyalakan. Tohir meloloskan pakaianku satu persatu, yang terakhir adalah rok abu-abuku yang dia turunkan lewat kakiku, hingga kini yang tersisa hanya sepasang anting di telingaku dan sebuah cincin yang melingkar di jariku.

Dia menelan ludah menatapi tubuhku yang sudah polos, butir-butir keringat nampak di tubuhku, rambutku yang terurai sudah kusut. Tak henti-hentinya di memuji keindahan tubuhku yang bersih terawat ini sambil menggerayanginya. Kemudian dia balikkan tubuhku dan menyuruhku menunggingkan pantat. Akupun mengangkat pantatku memamerkan vaginaku yang merah merekah di hadapan wajahnya. Tohir mendekatkan wajahnya ke sana dan menciumi kedua bongkahan pantatku, dengan gemas dia menjilat dan mengisap kulit pantatku, sementara tangannya membelai-belai punggung dan pahaku. Mulutnya terus merambat ke arah selangkangan. Aku mendesis merasakan sensasi seperti kesetrum waktu lidahnya menyapu naik dari vagina sampai anusku. Kedua jarinya kurasakan membuka kedua bibir vaginaku, dengusan nafasnya mulai terasa di sana lantas dia julurkan lidahnya dan memasukkannya disana. Aku mendesah makin tak karuan, tubuhku menggelinjang, wajahku kubenamkan ke bantal dan menggigitnya, pinggulku kugerak-gerakkan sebagai ekspresi rasa nikmat.

Di tengah-tengah desahan nikmat mendadak kurasakan kok lidahnya berubah jadi keras dan besar pula. Aku menoleh ke belakang, ternyata yang tergesek-gesek di sana bukan lidahnya lagi tapi kepala penisnya. Aku menahan nafas sambil menggigit bibir merasakan kejantanannya menyeruak masuk. Aku merasakan rongga kemaluanku hangat dan penuh oleh penisnya. Urat-urat batangnya sangat terasa pada dinding kemaluanku.



"Oouuhh.. Bang!" itulah yang keluar dari mulutku dengan sedikit bergetar saat penisnya amblas ke dalamku.

Dia mulai mengayunkan pinggulnya mula-mula lembut dan berirama, namun semakin lama frekuensinya semakin cepat dan keras. Aku mulai menggila, suaraku terdengar keras sekali beradu dengan erangannya dan deritan ranjang yang bergoyang. Dia mencengkramkan kedua tangannya pada payudaraku, terasa sedikit kukunya di sana, tapi itu hanya perasaan kecil saja dibanding sensasi yang sedang melandaku. Hujaman-hujaman yang diberikannya menimbulkan perasaan nikmat ke seluruh tubuhku.

Aku menjerit kecil ketika tiba-tiba dia tarik rambutku dan tangan kanannya yang bercokol di payudaraku juga ikut menarikku ke belakang. Rupanya dia ingin menaikkanku ke pangkuannya. Sesudah mencari posisi yang enak, kamipun meneruskan permainan dengan posisi berpangkuan membelakanginya. Aku mengangkat kedua tanganku dan melingkari lehernya, lalu dia menolehkan kepalaku agar bisa melumat bibirku. Aku semakin intens menaik-turunkan tubuhku sambil terus berciuman dengan liar. Tangannya dari belakang tak henti-hentinya meremasi dadaku, putingku yang sudah mengeras itu terus saja dimain-mainkan. Gelinjang tubuhku makin tak terkendali karena merasa akan segera keluar, kugerakkan badanku sekuat tenaga sehingga penis itu menusuk semakin dalam.

Mengetahui aku sudah diambang klimaks, tiba-tiba dia melepaskan pelukannya dan berbaring telentang. Disuruhnya aku membalikan badanku berhadapan dengannya. Harus kuakui dia sungguh hebat dan pandai mempermainkan nafsuku, aku sudah dibuatnya beberapa kali orgasme, tapi dia sendiri masih perkasa. Dia biarkan aku mencari kepuasanku sendiri dalam gaya woman on top. Kelihatannya dia sangat senang menyaksikan payudaraku yang bergoyang-goyang seirama tubuhku yang naik turun. Beberapa menit dalam posisi demikian dia menggulingkan tubuhnya ke samping sehingga aku kembali berada di bawah. Genjotan dan dengusannya semakin keras, menandakan dia akan segera mencapai klimaks, hal yang sama juga kurasakan pada diriku. Otot-otot kemaluanku berkontraksi semakin cepat meremas-remas penisnya. Pada detik-detik mencapai puncak tubuhku mengejang hebat diiringi teriakan panjang. Cairan cintaku seperti juga keringatku mengalir dengan derasnya menimbulkan suara kecipak.

Tohir sendiri sudah mulai orgasme, dia mendesah-desah menyebut namaku, penisnya terasa semakun berdenyut dan ukurannya pun makin membengkak, dan akhirnya.. dengan geraman panjang dia cabut penisnya dari vaginaku. Isi penisnya yang seperti susu kental manis itu dia tumpahkan di atas dada dan perutku. Setelah menyelesaikan hajatnya dia langsung terkulai lemas di sebelah tubuhku yang berlumuran sperma dan keringat. Aku yang juga sudah KO hanya bisa berbaring di atas ranjang yang seprei nya sudah berantakan, mataku terpejam, buah dadaku naik turun seiring nafasku yang ngos-ngosan, pahaku masih mekangkang, celah vaginaku serasa terbuka lebih lebar dari biasanya. Dengan sisa-sisa tenaga, kucoba menyeka ceceran sperma di dadaku, lalu kujilati maninya dijari-jariku.

Sejak saat itu, Tohir sering memintaku melayaninya kapanpun dan dimanapun ada kesempatan. Waktu mengantar-jemputku tidak jarang dia menyuruhku mengoralnya. Tampaknya dia sudah ketagihan dan lupa bahwa aku ini nona majikannya, bayangkan saja terkadang saat aku sedang tidak ‘mood’ pun dia memaksaku. Bahkan pernah suatu ketika aku sedang mencicil belajar menjelang Ebtanas yang sudah 2 minggu lagi, tiba-tiba dia mendatangiku di kamarku (saat itu sudah hampir jam 12 malam dan ortuku sudah tidur), karena lagi belajar aku menolaknya, tapi saking nafsunya dia nekad memperkosaku sampai dasterku sedikit robek, untung kamar ortuku letaknya agak berjauhan dariku. Meskipun begitu aku selalu mengingatkannya agar menjaga sikap di depan orang lain, terutama ortuku dan lebih berhati-hati kalau aku sedang subur dengan memakai kondom atau membuang di luar. Tiga bulan kemudian Tohir berhenti kerja karena ingin mendampingi istrinya yang TKW di Timur Tengah, lagipula waktu itu aku sudah lulus SMU dan sudah diijinkan untuk membawa mobil sendiri.

- Poker Online
- Domino Online


Bonus deposit 100% untuk Member baru dengan maksimal bonus Rp.30.000, ( Claim hanya 1x ) hanya dengan syarat yang sangat mudah yaitu TurnOver sebesar Rp.100.000 langsung bisa melakukan Withdraw
Buruan daftarkan diri Anda >> Daftar <<